Mengenal Lebih Dekat Sosok Bapak Pendidikan Indonesia "Ki Hajar Dewantara"

 

Ki Hajar Dewantara merupakan seorang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan belanda. Beliau lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, setelah berumur 40 tahun, tepatnya 25 februari 1928, beliau berganti nama dengan sebutan Ki Hajar Dewantara. Beliau berasal dari lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Pendidikan Ki Hajar Dewantara dimulai dari sekolah rendah Belanda (ELS), kemudian melanjutkan pada sekolah dokter STOVIA (sekolah dokter Bumiputera). Namun karena kekurangan biaya, Ki Hajar Dewantara tidak sampai tamat sekolah dokter pada tahun 1989. Setelah putus sekolah, beliau meniti karir sebagai pekerja pabrik secara berpindah-pindah. Mulai dari pegawai pabrik gula Probolinggo, pekerja di apotek rathkamp di Yogyakarta dan pernah menjadi wartawan. Kemudian beliau masuk dalam kancah politik bersama dengan danadirdja Setiabudi (yang terkenal dengan sebutan dr. Douwes Dekker) dan dengan dr. Cipto Mangunkusumo. Mereka memimpin perhimpunan politik yang bernama Indische Party, dimana pada saat ini Indonesia sangat menderita di bawah jajahan Belanda. 

Pada tahun 1913, nama Ki Hajar Dewantara mulai menjadi sorotan karena keberanian nya memberontak melalui tulisan menentang pemerintah Belanda untuk memperingati 100 tahun Napolen menjajah Indonesia. Atas perbuatannya ini, beliau dibuang ke negeri Belanda atas permintaannya sendiri. Di tempat pembuangannya, Ki Hajar Dewantara justru berkesempatan belajar tentang pendidikan dan pengajaran. Ki Hajar Dewantara menyumbangkan tenaganya pada perguruan Adhidarma Yogyakarta pada tahun 1921. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 3 juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah yakni: National Onderwys Institut Taman Siswa yang kemudian diubah menjadi Perguruan Kebangsaan Taman Siswa. Setelah zaman kemerdekaan beliau pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pembelajaran dan Kebudayaan yang pertama. Beliau wafat pada 26 april 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta. 

Melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959, Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional dan tanggal lahirnya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi.


sumber :  Jurnal Studi Islam dan Sosial, 2015

oleh : Muflihah dan Istiqomah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model Pembelajaran : Pengertian, Ciri-Ciri dan Fungsi

R. A. Kartini : Pelopor Emansipasi Wanita

Peresmian Menara Al-Musthofa Universitas Alma Ata Yogyakarta